BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang
Bahwa kita ketahui setiap negara pastilah
mempunyai yang namanya sejarah tersendiri. Sejarah itu ada yang menceritakan
sebuah kehidupan pada masa lalu ( bisa mengenai
proses kehidupan manusia yang menyangkut dengan perkembangan kehidupan
sosial,politik,budaya,dan alat-alat yang digunakan untuk bertahan hidup ),dan
ada juga yang menceritakan suatu penjajahan.
Sejarah merupakan suatu ilmu yang mempelajari
tentang kehidupan di masa lampau. Namun sejarah memiliki pengertian
sendiri menurut para ahli, seperti pendapat Aristoteles, Sejarah
merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun
dalam bentuk kronologi (http://hmicabangbanjarbaru.blogspot.com). Pada masa
yang sama, menurut beliau juga berpendapat Sejarah adalah peristiwa-peristiwa
masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang konkrit. Muhhamad Yamin juga mengatakan sejarah
adalah ilmu pengetahuan dengan umumnya yang berhubungan dengan cerita bertarikh
sebagai hasil penfsiran kejadian-kejadian dalam masyarakat manusia pada waktu
yang telah lampau atau tanda-tanda yang lain
(http://materi-ips-sma.blogspot.com).
Indonesia yang banyak mempunyai situs purbakala yang salah
satunya adalah sebuah candi peninggalan agama Budha yaitu Candi Borobudur,Candi
ini dibangun oleh raja-raja kerajaan Majapahit dalam vangsa Syalendra pada abad
ke-8 yang terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi
ini merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja
dan termasuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan kini menjadi objek
wisata yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik dalam negeri maupun luar
negeri.
Candi yang merupakan sebuah
bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari
agama Hindu-Buddha ini digunakan sebagai
tempat pemujaan dewa-dewa. Namun demikian, istilah candi tidak hanya digunakan oleh masyarakat
untuk menyebut tempat ibadah saja. Banyak situs-situs purbakala lain dari masa
Hindu-Buddha atau Klasik Indonesia, baik sebagai istana,
pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan istilah candi.Candi
juga berasal dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian
(Durga).Karenanya candi selalu dihubungkan dengan monumen untuk memuliakan
seorang Raja (http://awidyarso65.wordpress.com).
Di Indonesia terdapat banyak sekali objek
wisata yang layak untuk dikunjungi, salah satunya adalah wisata ke Candi
Borobudur. Biasanya pengunjung
mengetahui objek wisata tersebut dari buku, majalah, internet, atau dari cerita
orang lain saja. Dengan diadakannya observasi ini diharapkan mengetahui secara
langsung objek wisata Candi Borobudur, sehingga diharapkan peserta didik timbul
rasa kebanggaan dan dan rasa cinta terhadap bangsa yang memiliki berbagai macam
peninggalan sejarah yang tak kalah hebatnya dengan bangsa lain.
Demi tercapainya kualitas pembelajaran yang
baik, tidak hanya bisa dilakukan melalui proses belajar mengajar di dalam kelas
saja. Peserta didik justru akan merasa jenuh dan penasaran, terutama terkait
dengan materi yang dijelaskan oleh tenaga pengajar tersebut. Misalnya saja
masalah purbakala (khususnya candi). Untuk itu semua kegiatan observasi, yaitu
pengenalan dan penelitian secara langsung pada objek-objek yang berhubungan
dengan materi yang disampaikan tersebut, menjadi sangat penting untuk
dilaksanakan.
Dengan observasi, maka peserta didik tidak hanya mengetahui, akan tetapi juga dapat mengenal dan memahami objek secara langsung.
Dengan observasi, maka peserta didik tidak hanya mengetahui, akan tetapi juga dapat mengenal dan memahami objek secara langsung.
Dari uraian dan penjelasan diatas
kami membuat laporan hasil observasi saat KKL sebagai prasarat hasil dari
akademik. Adapun laporan ini membahas tentang candi borobudur yang kami beri judul “Mengenal Candi Borobudur Sebagai Objek
Wisata Dan Peranan Pendidikan Terhadap Peninggalan Purbakala”
1.2 Rumusan
Masalah
1. Bagaimana Sejarah Candi Borobudur?
2. Apasajakah Unsur-unsur Candi
Borobudur?
3. Bagaimana Peran Pemerintah dalam Merawat
dan Mempromosikan Candi Borobudur?
4. Bagaimana peran Candi Borobudur
sebagai Objek Wisata ?
5. Bagaimana peran Candi Borobudur
sebagai Pendidikan ?
1.3 Tujuan
Penulisan
Sesuai dengan rumusan
masalah diatas dengan mengkaji beberapa teori serta data yang kelompok kami
peroleh, maka dapat dideskripsikan tujuan dari pembuatan makalah ini sebagai
berikut :
1. Ingin Mengetahui Sejarah Candi Borobudur.
2. Ingin Mengetahui Unsur-unsur Candi
Borobur.
3. Ingin mengetahui Peran Pemerintah dalam Merawat dan Mempromosikan Candi Borobudur.
4. Ingin menegetahui Peran Candi Borobudur sebagai Objek Wisata.
5. Ingin mengetahui Peran Candi Borobudur Sebagai Pendidikan.
BAB II
Laporan Kuliah Kerja Lapngan
2.1 kajian Teori
2.1.1 Tentang Candi Borobudur
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur,Magelang,Jawa
Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut
Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar
tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.
a. Nama
Borobudur
Perkuliahan.com, menyebutkan bahwa Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini.
Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara,
yaitu artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak
teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan
kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran
bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal
dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata
vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari
bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur
artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di
atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah
tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar
doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan.
Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri
Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang
melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat
diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur
diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula
disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh
Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra.
Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti
tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur
dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra
dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh
tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.
b. Unsur-unsur
Candi Borobudur
Arti
atau makna Candi Borobudur secara filosofis merupakan lambang dari alam semesta
atau dunia cosmos. Menurut ajaran Budha
alam semesta dibagi menjadi tiga unsur atau dhatu dalam bahasa
sangsekerta. Dan unsur tersebut memiliki dasar punden berundak, dengan enam pelataran
berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah
stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya
beberapa stupa.
Sepuluh
pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana.
Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva
yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Bagian
kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh
kama atau “nafsu rendah”. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu
yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup
struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil
struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada
bagian ini.
Empat
lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu.
Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat
membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk.
Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas.
Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk
dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai
lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan
Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai
berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia
sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum
mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup
berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih
tampak samar-samar.
Tingkatan
tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang
terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam
stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau
disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha,
padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa
utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman
dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang
tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini
menemukan banyak patung seperti ini.
Di
masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua
patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan
kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini
Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika
itu.
Borobudur
tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah
lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi
dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat
Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah
kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga
merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk
arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia. Struktur Borobudur bila dilihat
dari atas membentuk struktur Mandala. Struktur Borobudur tidak memakai semen
sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang
bisa menempel tanpa lem.
c. Urain
bangunan secara teknis dapatlah di rinci sebagai berikut:
Ø Lebar dasar Candi Borobudur :132 m (lebar = panjang karena bujur sangkar)
Ø Tinggi bangunan : 35,4 m( setelah restorasi) : 42 m
( sebelum restorasi)
Ø Jumlah batu (batu andesit) :55.000 m³ (2.000.000 juta blok batu)
Ø Jumlah Stupa : 1 Stupa induk , 72 Stupa
berterawang
Ø Stupa induk bergaris tengah :
9.9 m
Ø Tinggi Stupa induk sampai bagian
bawah : 7 m
Ø Jumlah bidang Relief :1.460 bidang (± 2,5- 3 km)
Ø Jumlah Patung Budha : 504 buah
Ø Tinggi Patung Budha :1,5 m
d.Relief
Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief
ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief
cerita jātaka.
Pembacaan cerita-cerita relief
ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap
tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu
gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang
sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke
timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Secara runtutan, maka cerita pada
relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :
·
Karmawibhangga
Sesuai dengan makna simbolis pada
kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut
menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri
(serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai
korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap
perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya,
tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan
penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang
akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.
·
Lalitawistara
Merupakan penggambaran riwayat
Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang
lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan
berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini
berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief
sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut
menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk
menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha.
Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai
Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri
Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan
wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda
Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai
roda.
·
Jataka dan Awadana
Jataka adalah cerita tentang Sang
Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok
penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain
manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan
persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.
Sedangkan Awadana, pada dasarnya
hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa,
melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia
kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief
candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya
terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal
dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka,
karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi
·
Gandawyuha
Merupakan deretan relief
menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa
mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran
Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab
suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya
berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.
e.Stupa
Stupa berasal dari sebuah kata dalam bahasa
sansekerta stupa yang secara harfiah berarti tumpukan atau gundukan. Stupa
merupakan salah satu dari objek religius terpenting, khususnya untuk Buddhisme
aliran Vajrayana. Objek ini, dalam berbagai aspek ajaran Buddha, mempunyai
tingkatan makna yang berbeda pula. Makna dari terjemahan kata stupa dalam
bahasa Tibet adalah ‘wadah persembahan’, dan dalam tradisi Tibet rupang Buddha,
kitab suci , dan stupa secara berturut-turut merupakan simbol religius dari
tubuh, ucapan, dan pikiran Buddha. Makna yang terdalam dari stupa adalah bahwa
objek ini merupakan simbol dari Tubuh Dharma Buddha.
Jumlah
stupa pada candi borobudur yaitu 73 buah dengan rincian 1 buah stupa induk, 32
stupa pada teras melingkar I, 24 stupa pada teras melingkar II, dan 16 stupa
pada teras melingkar III.
Bentuk
stupa :
·
Stupa induk berongga, tanpa lubang terawang.
·
Stupa pada teras melingkar berlubang terawang:Lubang belah
ketupat pada stupa teras melingkar I dan II Lubang segi empat pada stupa teras
melingkar III.
·
Arti simbolis lubang terawang belah ketupat:
Berkaitan dengan filosofi menuju ke tingkat kesempurnaan.
Secara sepintas seluruh patung Budha tersebut
serupa, tetapi apabila diamati secara lebih detil, maka akan nampak secara
jelas perbedaannya, yakni pada posisi atau sikap tangannya. Sikap tangan inilah
yang menjadi ciri khas pengelompokkan setiap patung Budha di candi ini, ciri
ini dikenal dengan istilah Mudra arah mata angin, yang disebut dengan Dhayani
Budha.
f.Tahap
Pembangunan Borobudur
- Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak
diketahui pasti (diperkirakan ± Th775)Pada awalnya dibangun tata susun
bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian
diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.
- Tahap kedua
Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan
dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk
besar tahap kedua ini berlangsung ± Th790 (bersamaan denga Kalasan II, Lumbung
I, Sojiwan I)
- Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa
induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran.
Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di
tengahnya dan tahap ini berlangsung ± Th 810 (bersamaan dengan Kalasan III,Sewa
III,Lumbung III dan Sojiwan II)
- Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti pembuatan
relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu dan tahap ini berlangsung ± Th
835 (bersamaan dengan Gedung Songo group I ,Sambi Sari ,Badut I ,Kuning ,Banon
, Sari dan Plaosan).
(Sumber:The Temple of Java;
Jocques Dumarcay,1989 :27)
2.1.2 Kajian Teori Tentang Peranan
Candi Borobudur untuk Wisata
Badan Promosi
Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) meminta pengelola Taman Wisata Candi
Borobudur, Prambanan & Ratu Boko sebagai salah satu daerah tujuan
wisata mempunyai peran diberbagai bidang diantaranya :
·
Ekonomi
Candi Borobudur saat ini menjadi salah satu
objek wisata setelah disahkan oleh Bapak. Soeharto. Hal ini sangat berpengaruh
terhadap pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat setempat dikarenakan
dengan di Bukanya Candi Borobudur sebagai tempat wisata dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat sekitar yang seperti kami lihat banyak orang yang
berjualan berupa alat kerajinan maupun kuliner.
·
Budaya
Sebagai objek wisata,candi borobudur
mempunyai peran dalam budaya yaitu kita dapat mengerti dan mengetahui tentang
sejarah candi borobudur, memberi informasi yang dapat diamati dari aspek
filosifi dari bentuk bangunan candi, latar belakang keagamaan, pendidikan etika
dan norma juga kita daapat mengetahui nilai budaya dalam aspek
arkeologi,arkeologi ini adalah nilai yang berkaitan dengan kegunaan bentuk arsitektur,. Bentuk arsitektur Candi
Borobudur adalah perpaduan antara arsitektur Indonesia asli yang ditandai
dengan tiga tingkat berundak menyerupai punden yakni ciri khas bangunan yang
diperuntukkan bagi pemujaan roh nenek moyang (Soekmono, 1982) dengan arsitektur
India yang dicirikan oleh bentuk stupa sebagai puncaknya. Stupa sendiri adalah
prototip dari makam raja yang berbentuk kubah dari timbunan bata atau tanah
yang disebut “tumulus” (Brown, 1976).Selain itu Permasalahannya Candi berada di tengah-tengah PT Taman
yang sarat kepentingan dan berorientasi profit. Kita semua merindukan institusi
dan kebijakan menyangkut Candi Borobudur, Mendut, Prambanan, Ratu Boko dan
candi-candi lain masuk Kawasan Strategis Nasional yang memihak kepada
kepentingan budaya dan masyarakat. Sebuah badan yang akan menyuburkan kegiatan
pariwisata bukan dipenuhi kegiatan bisnis institusional, tujuan hiburan
mendominasi menejemen serta melupakan pembangunan pendidikan budaya nasional.
Peran pemerintah dalam merawat candi
borobudur tertuang dalam Berdasarkan
Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.40/OT.001/MKP-2006 tanggal
7 September 2006, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur mempunyai tugas pokok
melaksanakan kajian di bidang konservasi, teknik sipil, arsitektur, geologi,
biologi, kimia, arkeologi, dan melaksanakan pelatihan tenaga teknis konservasi
serta perawatan Borobudur dan peninggalan purbakala lainnya.
Benda cagar budaya disebut juga sumberdaya budaya, adalah warisan budaya
bangsa yang banyak memiliki keterbatasan baik dalam jumlah, maupun sifatnya
serta mempunyai makna kultural yang melekat pada objeknya. Oleh karenanya,
sumberdaya budaya tersebut perlu dijaga keberadaannya dengan cara dilindungi,
dilestarikan atau dikonservasi. Pengertian konservasi dalam hal ini diartikan
sebagai suatu upaya untuk melestarikan
sumberdaya arkeologi agar dimanfaatkan secara ’bijaksana’ sehingga dapat
bertahan lebih lama ( Subroto, 2003). Konservasi merupakan istilah yang menjadi
payung dari semua kegiatan pelestarian. Sesuai dengan kesepakatan internasional
yang dirumuskan dalam Burra Charter 1981 batasan konservasi adalah segenap
proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya
terpelihara dengan baik. Konservasi dapat meliputi segala kegiatan pemeliharaan
sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Konservasi dapat pula mencakup
preservasi, restorasi, rekonstruksi, adaptasi dan revitalisasi (Sidarto dan
Budihardjo, 1989).
Pengelolaan sumberdaya budaya pada dasarnya adalah kegiatan yang terpadu
antara dua aspek, yaitu pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya budaya. Dalam
kegiatan pengelolaan sumberdaya budaya, pembobotan merupakan langkah awal yang
perlu dilakukan karena perumusan rancangan manajemen sumberdaya budaya
bergantung dari bobot signifikansi yang diberikan kepada sumberdaya budaya
tersebut (Pearson, 1995) Dengan demikian perlakuan pengelolaan terhadap
sumberdaya budaya bernilai penting akan berbeda dengan sumberdaya budaya yang
kurang memiliki nilai.
Dalam mempromosikan sebuah candi
borobudur sejauh ini pemerintah
mempromosikan ke ranah internasional melalui penetapan warisan budaya
nasional menjadi warisan dunia karena keindahan dan keagungan Candi
Borobudur tidak hanya mendapatkan pengakuan masyarakat Indonesia sendiri,
melainkan ia sudah dianggap sebagai warisan kebudayaan dunia. Hal ini terbukti
pada saat pemugaran Candi Borobudur selama sepuluh tahun sejak tahun 1971,
dukungan berbagai negara sahabat telah diberikan secara mantap.
Dan selain dari pemerintah ternyata ada juga yang mempromosikan candi
borobudur seperti Maria Sharapova
diam-diam ternyata petenis cantik Rusia, ini mengagumi keindahan dan kebesaran
Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.Pernyataan Sharapova itu bukan
sekadar basa-basi, Mantan petenis nomor satu dunia ini menjadikan Borobudur sebagai salah satu
tujuan liburannya dan melalui akun Facebook-nya,
Maria Sharapova mempublish foto yang berlatar belakang Candi Borobudur.
"Menjelang matahari terbenam. Sayangnya, Sharapova tidak menyebutkan kapan
foto itu diambil. Namun, yang jelas itu sudah membuktikan dia pernah berlibur
ke Borobudur. Padahal, sebagai pemain tenis, dia belum pernah secara resmi
bertanding di Indonesia.
( Eky Rieuwpassa
Kamis, 08/11/2012 22:06:02 Read : 1453 )
Strategi kawasan ini amat
berarti bagi kesejahteraan daerah dan warga masyarakat banyak, menumbuhkan
kreativitas usaha lokal dan sebagai sarana mempelajari kebesaran peradaban masa
lalu untuk kehidupan sekarang. Inilah muara pembangunan destinasi pariwisata
yang sebenar-benarnya di komplek Borobudur.
2.1.2 Kajian Teori Tentang Peran Candi Borobudur dalam Pendidikan
Pendidikan artinya proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Idris (1982:10). Merunut
pengertian tersebut, pendidikan dimaknai sebagai upaya yang dilakukan untuk
mencapai tujuan melalui proses pelatihan dan cara mendidik.
Definisi di atas, menunjukkan bahwa pendidikan merupakan
usaha sistematis yang bertujuan agar setiap manusia mencapai satu tahapan
tertentu di dalam kehidupannya, yaitu tercapainya kebahagian lahir dan batin.
Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ruang
lingkup kebudayaan dan sejarah . Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia
selama menjalin interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun non
fisik. Hasil perolehan tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup
manusia. Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah
mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah. Pada akhirnya proses
tersebut mampu melahirkan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia.
Disini kebudayaan dapat disimpulkan sebagai hasil pembelajaran manusia dengan
alam. Alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang memicu akal
budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi sesuatu yang berguna bagi
kehidupannya.
Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam
arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yakni nilai-nilai. Dalam
konteks kebudayaan justru pendidikan memainkan peranan sebagai agen pengajaran
nilai-nilai budaya. Karena pada dasarnya pendidikan yang berlangsung adalah
suatu proses pembentukan kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang
dimiliki.
Oleh karena itu kebudayaan diturunkan kepada generasi penerusnya lewat
proses belajar tentang tata cara bertingkah laku. Sehingga secara wujudnya,
substansi kebudayaan itu telah mendarah daging dalam kepribadian anggota-anggotanya.
Candi Borobudur yang merupakan hasil budaya ini
membuktikan serta menyimpan sejarah panjang yang pernah terjadi pada kekuasaan
Kerajaan Mataram Kuno pada masa Dinasti Saylendra, Selain itu Candi Borobudur
berfungsi sebagai upacara keagamaan dan ziarah bagi umat Buddha. Serta Candi
Borobudur pada saat ini banyak memiliki
fungsi sebagai sumber informasi sejarah dan objek observasi sejarah bagi
masyarakat, pelajar, maupun mahasiswa.
Dari uraian diatas kami menyimpulkan bahwa
candi borobudur yang merupakan hasil budaya berperan sebagai pendidikan sejarah
yaitu memberi informasi sejarah candi borobudur yang dapat kita pelajari
sebagai ilmu pendidikan sejarah. Candi Borobudur sebagai salah satu daerah
tujuan wisata mempunyai peran diberbagai bidang diantaranya dalam bidang
ekonomi dan budya.
2.2 Temuan
di Lapangan
Candi Borobudur merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang saat ini masih menjadi
pusat perhatian masyarakat dunia baik dari segi kepariwisataan dan pengetahuan.Dan
nama Candi Borobudur memiliki beberapa penafsiran nama diantaranya dari Poerbatjaraka
menurut beliu“ Boro ” berarti “ Biara ” dengan demikian Borobudur
berati “ Biara Budur ”(candi borobudur sepanjang masa,hlm 3).Penafsiran
ini memang sangat menarik karena mendekati kebenaran berdasarkan bukti yang
ada. Dan menurut De Casparis menemukan kata majemuk dalam sebuah prasasti yang
kemungkinan merupakan asal kata Borobudur(candi borobudur sepanjang
masa,hlm4).Dalam prasasti SRI KUHULUAN yang berangka 842 masehi dijumpai
kata “ Bhumi Sambara Budhara ” yaitu suatu sebutan untuk bangunan suci
pemujaan nenek moyang atau disebut kuil.
Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat" Nama Borobudur
diambil dari bahasa Sanksekerta dari dua kata “biara” dan “beduhur”.Biara
artinya tempat beribadah sedangkan beduhur artinya bukit jadi tempat ibadah
diatas bukit”.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa candi Borobudur dibangun pada saat masa
kepemimpinan Raja dari wangsa Syailendra yang sangat terkenal, yaitu
Samaratungga, sekitar tahun 800-an Masehi. Pada masa itu, pembangunan candi ini
diyakini dengan menghiasi/menambahkan bebatuan pada wilayah perbukitan alami,
sehingga Borobudur diyakini merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas
bukit yang menjulang tinggi. Batu yang disusun menjadi candi tersebut merupakan
batu andesit sebanyak 55.000 m3, dengan bangunan berbentuk limas yang
berjenjang yang dilengkapi tangga naik di keempat sisinya. Pada masa
pemerintahan Raja Samaratungga candi Borobudur digunakan sebagai pusat kegiatan
religius dan pemujaan serta ziarah pada masa Raja Samaratungga. Selain itu,
candi ini juga dikenal sebagai centre of knowledge dan pusat kebudayaan
agama Budha Mahayana, serta pusat kehidupan dan perekonomian masyarakat pada
era wangsa Syailendra.
Menurut Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat"Candi
Borobudur dibangun pada abad ke 8 oleh penganut agama Budha Mahayana pada masa
pemerintahan wangsa Syailendra dan tujuan dibangun Candi Borobudur ada tiga tujuan , diantaranya yang
pertama sebagai tempat sembahyang Budha,
yang kedua sebagai tempat meditasi(bertapa), dan yang ketiga sebagai tempat
media siar atau dakwah.Dan perlu di ketahui mengapa Candi Borobudur tujuannya
sebagai media siar atau dakwah, karena kita ketahui agama yang pertama di
Indonesia ini adalah agama Hindu, oleh karena itu dibangun sebuah Candi
besar(Borobudur) gunanya untuk menarik perhatian orang-orang untuk memeluk
agama Budha, dan ternyata dengan dibangunnya Candi Borobudur ini berhasil mempengaruhi
keyakinan orang-orang yang dulunya memeluk agama Hindu kemudian lari memeluk
agama Budha”.
Candi Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur,Magelang,Jawa
Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut
Yogyakarta.
Pak Andi yang merupakan guide KKL
kami berpendapat" Candi Borobudur terletak di desa Borobudur,Kecamatan
Borobudur , Kabupaten Magelang, provinsi Jawa Tengah.Dan kawasan Candi
Borobudur mempunyai luas 85 ha, dimana dengan luas tersebut dibagi menjadi dua
manajemen yang pertama di kawasan luar candi di bawah naungan Perusahaan
PT.Pariwisata Candi Borobudur dan di dalam kawasan Candi Borobudur di bawah
naungan Pemerintah”.
Dan teknis bangunan Candi Borobudur dapat dirinci sebagai berikut:
Ø Lebar dasar Candi Borobudur :132 m
(lebar = panjang karena bujur sangkar)
Ø Tinggi bangunan :
35,4 m( setelah restorasi) : 42 m ( sebelum
restorasi)
Ø Jumlah batu (batu andesit) :55.000 m³
(2.000.000 juta blok batu)
Ø Jumlah Stupa :
1 Stupa induk , 72 Stupa berterawang
Ø Stupa induk bergaris tengah : 9.9 m
Ø Tinggi Stupa induk sampai bagian
bawah : 7 m
Ø Jumlah bidang Relief :1.460
bidang (± 2,5- 3 km)
Ø Jumlah Patung Budha : 504 buah
Ø Tinggi Patung Budha :1,5 m
Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat"Candi Borobudur
didirikan pada sebuah bukit seluas ± 7,8 ha pada ketinggian 265.40 m diatas
permukaan laut.Untuk menyusuakan dengan profil candi yangakan dibangun ,bukit
diurug dengan ketebalan bervariasi antara 0,5 m – 8,50 m.Denah candi menyerupai
bujur sangkar dengan 36 sudut pada dinding teras 1,2 dan 3 tersusun dari batu
andesip dengan sistem dry masonry( tanpa perekat) diperkirakan mencapai 55.000
m³ atau 2.000.000 blok batu.
Di
setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini
dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa
Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah
timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain
relief-relief cerita jātaka. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa
dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya,
mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka
secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama)
dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun
sisi-sisi lainnya serupa benar.
Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat" Teknik untuk
membaca relief-relief dalam Candi Borobudur sesuai dengan arah jarum jam
berputar.
Stupa berasal dari sebuah kata dalam bahasa
sansekerta stupa yang secara harfiah berarti tumpukan atau gundukan. Stupa merupakan
salah satu dari objek religius terpenting, khususnya untuk Buddhisme aliran
Vajrayana. Objek ini, dalam berbagai aspek ajaran Buddha, mempunyai tingkatan
makna yang berbeda pula. Makna dari terjemahan kata stupa dalam bahasa Tibet
adalah ‘wadah persembahan’, dan dalam tradisi Tibet rupang Buddha, kitab suci ,
dan stupa secara berturut-turut merupakan simbol religius dari tubuh, ucapan,
dan pikiran Buddha. Makna yang terdalam dari stupa adalah bahwa objek ini
merupakan simbol dari Tubuh Dharma Buddha.
Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat" Jumlah Stupa ada 73 dalam tingkatan 32 buah, diatasnya 24
dan terakhir 16 buah stupa dan ada 1 stupa besar, 73 ini (7+3= 10) 1
melambangkan Tuhan Yang Maha Esa dan 0 melambangkan kekuasaannya tidak ada yang
menandingi.
Karena keadaan Borobudur kian memburuk maka
pada tahun 1900 dibentuklah suatu panitia khusus, diketuai oleh Dr. J.L.A
Brandes.Sangat disayangkan beliu meninggal tahun 1905.Tahun 1907 dimulai
pembugaran besar-besaran yang pertama kali dan dipimpin oleh Van Erp. Kegiatan
ini antara lain memperbaiki sistem drainase, saluran-saluran pada bukit
diperbaiki dan pembuatan cangal untuk mengarahkan air hujan.
Dan pemugaran kedua dilakukan pada tahun 1963
oleh pemerintah RI dengan menyediakan dana yang cukup besar.Pada tahun 1963
Pemerintah RI membentuk panitia Nasional untuk melaksanakan pemugaran Candi
Borobudur dan juga dibantu oleh UNESCO.
Menurut Pak Andi yang merupakan guide KKL
kami berpendapat" Untuk menyelamatkan Candi Borobudur dibuatlah saluran
air (drenase) untuk menampung air hujan supaya tanahnya tidak amblas atau
tenggelam.Dan melakukan pembersihan abu vulkanik yang menempel di dinding candi
dan membereskan puing-puing candi.
2.2.2 Peran
Candi Borobudur sebagai Objek Wisata
Peran pemerintah dalam merawat candi
borobudur tertuang dalam Berdasarkan
Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.40/OT.001/MKP-2006
tanggal 7 September 2006, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur mempunyai
tugas pokok melaksanakan kajian di bidang konservasi, teknik sipil, arsitektur,
geologi, biologi, kimia, arkeologi, dan melaksanakan pelatihan tenaga teknis
konservasi serta perawatan Borobudur dan peninggalan purbakala lainnya.
Dan menurut Pak Anto (Securiti) berpendapat"
Bahwa Perawatan Candi Borobudur itu dananya dari pemerintah di bawah dinas
Pariwisata dan perlu diketahui tanah di kawasan luar candi yang sekarang
fungsinya sebagai taman wisata, dulunya adalah tanah milik penduduk yang
kemudian dibeli oleh pemerintah di bawah dinas pariwisata, yang akhirnya
dijadikan taman wisata Candi Borobudur”.
Badan Promosi
Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) meminta pengelola Taman Wisata Candi
Borobudur, Prambanan & Ratu Boko sebagai salah satu daerah tujuan
wisata mempunyai peran diberbagai bidang diantaranya :
·
Ekonomi
Candi Borobudur saat ini menjadi salah satu
objek wisata setelah disahkan oleh Bapak. Soeharto. Hal ini sangat berpengaruh
terhadap pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat setempat dikarenakan
dengan di Bukanya Candi Borobudur sebagai tempat wisata dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat sekitar yang seperti kami lihat banyak orang yang
berjualan berupa alat kerajinan maupun kuliner.
·
Budaya
Sebagai objek wisata,candi borobudur
mempunyai peran dalam budaya yaitu kita dapat mengerti dan mengetahui tentang
sejarah candi borobudur, memberi informasi yang dapat diamati dari aspek
filosifi dari bentuk bangunan candi, latar belakang keagamaan, pendidikan etika
dan norma juga kita daapat mengetahui nilai budaya dalam aspek arkeologi,arkeologi
ini adalah nilai yang berkaitan dengan kegunaan
bentuk arsitektur,. Bentuk arsitektur Candi Borobudur adalah perpaduan
antara arsitektur Indonesia asli yang ditandai dengan tiga tingkat berundak
menyerupai punden yakni ciri khas bangunan yang diperuntukkan bagi pemujaan roh
nenek moyang (Soekmono, 1982) dengan arsitektur India yang dicirikan oleh
bentuk stupa sebagai puncaknya.
Dan menurut Pak Andi guide KKL kami
berpendapat" Pengelolaan Candi
Borobudur dalam bidang ekonomi dan
budaya disini dalam bidang ekonomi candi borobudur mempunyai fungsi untuk
menyumbangkan devisa negara, dan dalam bidang kebudayaan pengunjung dapat
mengetahui sejarah borobudur dan isi dari candi borobudur.
2.2.3 Peran Candi Borobudur
sebagai Pendidikan
Dalam strategi pengelolaan untuk
wisata disini pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat dalam
perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak ada
kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah
kepribadian-kepribadian. Para pakar antropologi, menunjuk kepada peranan
individu bukan hanya sebagai bidak-bidak di dalam papan catur kebudayaan.
Individu adalah creator dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Di dalam hal
ini studi kebudayaan mengemukakan pengertian “sebab-akibat sirkuler” yang
berarti bahwa antara kepribadian dan kebudayaan terdapat suatu interaksi yang
saling menguntungkan. Di dalam perkembangan kepribadian diperlukan kebudayaan
dan seterusnya kebudayaan akan dapat berkembang melalui kepribadian–kepribadian
tersebut. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pendidikan bukan semata-mata
transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang
kreatif.
Menurut Pak Andi yang selaku guide KKL kami
berpendapat"Strategi pengelolaan dalam Objek Pendidikan yaitu seperti yang
kita ketahui Candi ini adalah Peninggalan dari Kerajaan Mataram pada Dinasti
Syailendra,dari sini kita dapat mengetahui sejarah Candi Borobudur selain itu
disini ada guide yang tugas menjelaskan tentang borobudur baik dalam sejarah,
isi(relief,stupa,tingkatan).Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Candi
Borobudur memegang Peran Pendidikan yaitu memberikan informasi tentang Candi
Borobudur sebagai ilmu pendidikan sejarah”.
Badan Promosi Pariwisata
Kota Yogyakarta (BP2KY) meminta pengelola Taman Wisata Candi Borobudur mempromosikan ke ranah internasional
melalui penetapan warisan budaya nasional menjadi warisan dunia karena
keindahan dan keagungan Candi Borobudur tidak hanya mendapatkan pengakuan
masyarakat Indonesia sendiri, melainkan ia sudah dianggap sebagai warisan
kebudayaan dunia. Hal ini terbukti pada saat pemugaran Candi Borobudur selama
sepuluh tahun sejak tahun 1971, dukungan berbagai negara sahabat telah
diberikan secara mantap.
Menurut Pak Andi yang selaku guide KKL kami
berpendapat" Dalam mempromosikan Candi Borobudur, dilakukan dengan cara mengenalkan wisata warisan dunia ini
melalui teknologi informasi seperti internet, buku-buku tentang sejarah Candi
Borobudur dan laen sebagainya.
.
2.3 Hubungan Kajian Teori dengan Temuan di
lapangan
Menurut kajian teori
Candi
borobudur didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.
Nama candi ini berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau
biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”. Sepuluh pelataran yang
dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana.
Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva
yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.Candi borobudur
mempunyai 3 tingktan yaitu kamadatu,rupadatu dan arupadatu.Dalam setiap dinding
ada sebuah Relief-relief yang dibaca
sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina
yang artinya ialah timur. Jumlah stupa pada candi borobudur
yaitu 73 buah dengan rincian 1 buah stupa induk, 32 stupa pada teras melingkar
I, 24 stupa pada teras melingkar II, dan 16 stupa pada teras melingkar III. Badan Promosi Pariwisata
Kota Yogyakarta (BP2KY) meminta pengelola Taman Wisata Candi Borobudur,
Prambanan & Ratu Boko sebagai salah satu daerah tujuan wisata
mempunyai peran diberbagai bidang diantaranya bidang ekonomi dan budaya. Peran
pemerintah dalam merawat candi borobudur tertuang dalam Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata Nomor : PM.40/OT.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006, Balai
Konservasi Peninggalan Borobudur. Dari uraian diatas kami menyimpulkan bahwa
candi borobudur yang merupakan hasil budaya berperan sebagai pendidikan sejarah
yaitu memberi informasi sejarah candi borobudur yang dapat kita pelajari
sebagai ilmu pendidikan sejarah.
Temuan di lapangan
Nama Borobudur diambil dari bahasa
Sanksekerta dari dua kata “biara” dan “beduhur”.Biara artinya tempat beribadah
sedangkan beduhur artinya bukit jadi tempat ibadah diatas bukit”. Menurut
ajaran Budha, alam semesta dibagi menjadi tiga Unsur atau dhatu dalam bahasa
Sanksekerta, yaitu Kamadhatu,Rupadhatu,Arupadhatu. Bahwa Perawatan Candi
Borobudur itu dananya dari pemerintah di bawah dinas Pariwisata dan perlu
diketahui tanah di kawasan luar candi yang sekarang fungsinya sebagai taman
wisata. Peran sebagai Objek Wisata adalah sebagai tempat wisata yang dapat
dikunjungi oleh siapapun baik turis domestik maupun mancanegara untuk mengenal
dan mempelajari masalah Candi Borobudur. Candi Borobudur memegang Peran
Pendidikan yaitu memberikan informasi tentang Candi Borobudur sebagai ilmu
pendidikan sejarah”.
Dari uiraian dan penjelasan secara
singkat tentang kajian teori dan temuan
dilapangan ditasa mempunyai kesamaan atau hubungan, dengan ini kami dapat
menyimpulkan bahwa kajian teori dan temuan dilapangan materi yang kami dapatkan
tidak jauh beda atau hampir sama.
BAB III
Kesimpulan
3.1
Kesimpulan
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur ,Magelang,Jawa
Tengah dan didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi.
Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam, Secara runtutan, maka cerita
pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut yaitu Karmawibhangga, Lalitawistara, Jataka dan
Awadana.
Jumlah stupa pada candi borobudur yaitu 73 buah dengan rincian 1 buah stupa
induk, 32 stupa pada teras melingkar I, 24 stupa pada teras melingkar II, dan
16 stupa pada teras melingkar III.
Dalam mempromosikan candi borobudur sejauh
ini pemerintah mempromosikan ke ranah
internasional melalui penetapan warisan budaya nasional menjadi warisan dunia.
Candi Borobudur sebagai salah satu daerah tujuan wisata mempunyai peran
diberbagai bidang diantaranya dalam bidang ekonomi dan budya. Bahwa candi
borobudur berperan sebagai pendidikan sejarah yaitu memberi informasi sejarah
candi borobudur yang dapat kita pelajari sebagai ilmu pendidikan sejarah.
Dalam Objek Wisata kita dapat mengetahui dan dapat mengerti tentang sejarah candi
borobudur, memberi informasi yang dapat diamati dari aspek filosifi dari bentuk
bangunan candi, latar belakang keagamaan, pendidikan etika dan norma juga kita
daapat mengetahui nilai budaya dalam aspek arkeologi,arkeologi ini adalah nilai
yang berkaitan dengan kegunaan bentuk
arsitektur. Bentuk arsitektur Candi Borobudur adalah perpaduan antara
arsitektur Indonesia asli yang ditandai dengan tiga tingkat berundak menyerupai
punden yakni ciri khas bangunan yang diperuntukkan bagi pemujaan roh nenek
moyang (Soekmono, 1982).Dan peran Pendidikannya adalah memberikan informasi
tentang Candi Borobudur sebagai Ilmu Pendidikan Sejarah.
3.2 Saran
Dari hasil Observasi KKL yang telah lakukan kami
mempunyai saran bahwa kita sebagai generasi muda harus menghargai sejarah kita
sendiri yaitu dengan merawat,mempelajari,dan melestarikan dari apa saja yang
dihasilkan budaya terdahulu salah satunya peninggalan pada
kerajaan Mataram kuno dalam masa pemerintahan dinasti syailendra yaitu Candi
Borobudur.
3.3 Penutup
Dengan selesainya penyusunan makalah ini,
maka penyusun panjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT,atas segala petunjuk
bimbingan dan ridho-Nya, kesulitan dan hambatan dapat teratasi sehingga
penyusunan makalah ini dapat terselesaikan.
Pemilihan
laporan ini merupakan bentuk pemikiran kami dari kegiatan Kuliah Kerja Lapangan
dengan mengharapkan pencapaian tujuan belajar yang maksimal guna memperoleh
basil yang maksimal pula, Dan semoga Makalah ini bermanfaat bagi seluruh
Mahasiswa Universitas PGRI Banyuwangi beserta Mahasiwa sejarah.
Penyusunan Laporan ini masih jauh dari kata sempurna,
maka dari itu diharapkan peranserta pembaca dalam memberikan kritik dan saran
bagi kelompok kami yang membangun untuk kesempurnaan penulisan Makalah ini.
Semoga apa yang ada dalam penulisan ini
bermafaat bagi Mahasiwa khususnya Mahasiswa sejarah.
DAFTAR PUSTAKA
Madhori. Candi Borobudur Sepanjang Masa
Soekmono.R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, (1975).
Kanisius Yogya.
http://wisata.mitrasites.com/taman-wisata-candi-borobudur.html
http://travel.kompas.com/read/2009/09/14/1800323/Candi.Borobudur.Siapkan.Tambahan.Fasilitas.dan.Paket.Wisata