Rabu, 17 April 2013

mengenal sejarah borobudur sebai peran pendidikan dan obyek wisata



BAB I
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Bahwa kita ketahui setiap negara pastilah mempunyai yang namanya sejarah tersendiri. Sejarah itu ada yang menceritakan sebuah kehidupan pada masa lalu ( bisa mengenai  proses kehidupan manusia yang menyangkut dengan perkembangan kehidupan sosial,politik,budaya,dan alat-alat yang digunakan untuk bertahan hidup ),dan ada juga yang menceritakan suatu penjajahan.
Sejarah merupakan suatu ilmu yang mempelajari  tentang kehidupan di masa lampau. Namun sejarah memiliki pengertian sendiri menurut para ahli, seperti pendapat Aristoteles, Sejarah merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk kronologi (http://hmicabangbanjarbaru.blogspot.com). Pada masa yang sama, menurut beliau juga berpendapat Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang konkrit.  Muhhamad Yamin juga mengatakan sejarah adalah ilmu pengetahuan dengan umumnya yang berhubungan dengan cerita bertarikh sebagai hasil penfsiran kejadian-kejadian dalam masyarakat manusia pada waktu yang telah lampau atau tanda-tanda yang lain (http://materi-ips-sma.blogspot.com).
Indonesia yang banyak mempunyai situs purbakala yang salah satunya adalah sebuah candi peninggalan agama Budha yaitu Candi Borobudur,Candi ini dibangun oleh raja-raja kerajaan Majapahit dalam vangsa Syalendra pada abad ke-8 yang terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja dan termasuk dalam salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan kini menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri.
Candi yang merupakan sebuah bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama Hindu-Buddha ini  digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa. Namun demikian, istilah  candi tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja. Banyak situs-situs purbakala lain dari masa Hindu-Buddha atau Klasik Indonesia, baik sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan istilah candi.Candi juga berasal dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Durga).Karenanya candi selalu dihubungkan dengan monumen untuk memuliakan seorang Raja (http://awidyarso65.wordpress.com).
Di Indonesia terdapat banyak sekali objek wisata yang layak untuk dikunjungi, salah satunya adalah wisata ke Candi Borobudur.  Biasanya pengunjung mengetahui objek wisata tersebut dari buku, majalah, internet, atau dari cerita orang lain saja. Dengan diadakannya observasi ini diharapkan mengetahui secara langsung objek wisata Candi Borobudur, sehingga diharapkan peserta didik timbul rasa kebanggaan dan dan rasa cinta terhadap bangsa yang memiliki berbagai macam peninggalan sejarah yang tak kalah hebatnya dengan bangsa lain.
Demi tercapainya kualitas pembelajaran yang baik, tidak hanya bisa dilakukan melalui proses belajar mengajar di dalam kelas saja. Peserta didik justru akan merasa jenuh dan penasaran, terutama terkait dengan materi yang dijelaskan oleh tenaga pengajar tersebut. Misalnya saja masalah purbakala (khususnya candi). Untuk itu semua kegiatan observasi, yaitu pengenalan dan penelitian secara langsung pada objek-objek yang berhubungan dengan materi yang disampaikan tersebut, menjadi sangat penting untuk dilaksanakan.
Dengan observasi, maka peserta didik tidak hanya mengetahui, akan tetapi juga dapat mengenal dan memahami objek secara langsung.
Dari uraian dan penjelasan diatas kami membuat laporan hasil observasi saat KKL sebagai prasarat hasil dari akademik. Adapun laporan ini membahas tentang candi  borobudur yang kami beri judul “Mengenal Candi Borobudur Sebagai Objek Wisata Dan Peranan Pendidikan Terhadap Peninggalan Purbakala

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sejarah Candi Borobudur?
2.      Apasajakah Unsur-unsur Candi Borobudur?
3.      Bagaimana Peran Pemerintah dalam Merawat dan Mempromosikan Candi Borobudur?
4.      Bagaimana peran Candi Borobudur sebagai Objek Wisata ?
5.      Bagaimana peran Candi Borobudur sebagai Pendidikan ?




1.3  Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah diatas dengan mengkaji beberapa teori serta data yang kelompok kami peroleh, maka dapat dideskripsikan tujuan dari pembuatan makalah ini sebagai berikut :
1.      Ingin Mengetahui Sejarah Candi Borobudur.
2.      Ingin Mengetahui Unsur-unsur Candi Borobur.
3.      Ingin mengetahui Peran Pemerintah dalam Merawat dan Mempromosikan Candi Borobudur.
4.      Ingin menegetahui Peran Candi Borobudur sebagai Objek Wisata.
5.      Ingin mengetahui Peran Candi Borobudur Sebagai Pendidikan.





















BAB II
Laporan Kuliah Kerja Lapngan

2.1  kajian Teori
2.1.1 Tentang Candi Borobudur

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur,Magelang,Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.

a.      Nama Borobudur
Perkuliahan.com, menyebutkan bahwa Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra.  Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.



b.      Unsur-unsur Candi Borobudur
Arti atau makna Candi Borobudur secara filosofis merupakan lambang dari alam semesta atau dunia cosmos. Menurut ajaran Budha  alam semesta dibagi menjadi tiga unsur atau dhatu dalam bahasa sangsekerta. Dan unsur tersebut memiliki  dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.
Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.
Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.
c.       Urain bangunan secara teknis dapatlah di rinci sebagai berikut:

Ø  Lebar dasar Candi Borobudur                                    :132 m (lebar = panjang karena bujur  sangkar)
Ø  Tinggi bangunan                                             : 35,4 m( setelah restorasi) : 42 m ( sebelum   restorasi)
Ø  Jumlah batu (batu andesit)                              :55.000 m³ (2.000.000 juta blok batu)
Ø  Jumlah Stupa                                                   : 1 Stupa induk , 72 Stupa berterawang
Ø  Stupa induk bergaris tengah                           : 9.9 m
Ø  Tinggi Stupa induk sampai bagian bawah      : 7 m
Ø  Jumlah bidang Relief                                      :1.460 bidang (± 2,5- 3 km)
Ø  Jumlah Patung Budha                                     : 504 buah
Ø  Tinggi Patung Budha                                      :1,5 m

d.Relief
Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.
Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :
·         Karmawibhangga
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.
·         Lalitawistara
Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.
·         Jataka dan Awadana
Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.
Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi
·         Gandawyuha
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.



e.Stupa
Stupa berasal dari sebuah kata dalam bahasa sansekerta stupa yang secara harfiah berarti tumpukan atau gundukan. Stupa merupakan salah satu dari objek religius terpenting, khususnya untuk Buddhisme aliran Vajrayana. Objek ini, dalam berbagai aspek ajaran Buddha, mempunyai tingkatan makna yang berbeda pula. Makna dari terjemahan kata stupa dalam bahasa Tibet adalah ‘wadah persembahan’, dan dalam tradisi Tibet rupang Buddha, kitab suci , dan stupa secara berturut-turut merupakan simbol religius dari tubuh, ucapan, dan pikiran Buddha. Makna yang terdalam dari stupa adalah bahwa objek ini merupakan simbol dari Tubuh Dharma Buddha.
Jumlah stupa pada candi borobudur yaitu 73 buah dengan rincian 1 buah stupa induk, 32 stupa pada teras melingkar I, 24 stupa pada teras melingkar II, dan 16 stupa pada teras melingkar III.
Bentuk stupa :
·         Stupa induk berongga, tanpa lubang terawang.
·         Stupa pada teras  melingkar berlubang terawang:Lubang belah ketupat pada stupa teras melingkar I dan II Lubang segi empat pada stupa teras melingkar III.
·         Arti simbolis lubang terawang belah ketupat: Berkaitan dengan filosofi menuju ke tingkat kesempurnaan.
Secara sepintas seluruh patung Budha tersebut serupa, tetapi apabila diamati secara lebih detil, maka akan nampak secara jelas perbedaannya, yakni pada posisi atau sikap tangannya. Sikap tangan inilah yang menjadi ciri khas pengelompokkan setiap patung Budha di candi ini, ciri ini dikenal dengan istilah Mudra arah mata angin, yang disebut dengan Dhayani Budha.
f.Tahap Pembangunan Borobudur
  • Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan ± Th775)Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

  • Tahap kedua
 Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar tahap kedua ini berlangsung ± Th790 (bersamaan denga Kalasan II, Lumbung I, Sojiwan I)
  • Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya dan tahap ini berlangsung ± Th 810 (bersamaan dengan Kalasan III,Sewa III,Lumbung III dan Sojiwan II)
  • Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu dan tahap ini berlangsung ± Th 835 (bersamaan dengan Gedung Songo group I ,Sambi Sari ,Badut I ,Kuning ,Banon , Sari dan Plaosan).
(Sumber:The Temple of Java; Jocques Dumarcay,1989 :27)

2.1.2 Kajian Teori Tentang Peranan  Candi Borobudur untuk  Wisata

Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) meminta pengelola Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko sebagai salah satu daerah tujuan wisata mempunyai peran diberbagai bidang diantaranya :

·         Ekonomi
Candi Borobudur saat ini menjadi salah satu objek wisata setelah disahkan oleh Bapak. Soeharto. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat setempat dikarenakan dengan di Bukanya Candi Borobudur sebagai tempat wisata dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar yang seperti kami lihat banyak orang yang berjualan berupa alat kerajinan maupun kuliner.
·         Budaya
Sebagai objek wisata,candi borobudur mempunyai peran dalam budaya yaitu kita dapat mengerti dan mengetahui tentang sejarah candi borobudur, memberi informasi yang dapat diamati dari aspek filosifi dari bentuk bangunan candi, latar belakang keagamaan, pendidikan etika dan norma juga kita daapat mengetahui nilai budaya dalam aspek arkeologi,arkeologi ini adalah nilai yang berkaitan dengan kegunaan  bentuk arsitektur,. Bentuk arsitektur Candi Borobudur adalah perpaduan antara arsitektur Indonesia asli yang ditandai dengan tiga tingkat berundak menyerupai punden yakni ciri khas bangunan yang diperuntukkan bagi pemujaan roh nenek moyang (Soekmono, 1982) dengan arsitektur India yang dicirikan oleh bentuk stupa sebagai puncaknya. Stupa sendiri adalah prototip dari makam raja yang berbentuk kubah dari timbunan bata atau tanah yang disebut “tumulus” (Brown, 1976).Selain itu Permasalahannya Candi berada di tengah-tengah PT Taman yang sarat kepentingan dan berorientasi profit. Kita semua merindukan institusi dan kebijakan menyangkut Candi Borobudur, Mendut, Prambanan, Ratu Boko dan candi-candi lain masuk Kawasan Strategis Nasional yang memihak kepada kepentingan budaya dan masyarakat. Sebuah badan yang akan menyuburkan kegiatan pariwisata bukan dipenuhi kegiatan bisnis institusional, tujuan hiburan mendominasi menejemen serta melupakan pembangunan pendidikan budaya nasional.
Peran pemerintah dalam merawat candi borobudur tertuang dalam  Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.40/OT.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur mempunyai tugas pokok melaksanakan kajian di bidang konservasi, teknik sipil, arsitektur, geologi, biologi, kimia, arkeologi, dan melaksanakan pelatihan tenaga teknis konservasi serta perawatan Borobudur dan peninggalan purbakala lainnya.
Benda cagar budaya disebut juga sumberdaya budaya, adalah warisan budaya bangsa yang banyak memiliki keterbatasan baik dalam jumlah, maupun sifatnya serta mempunyai makna kultural yang melekat pada objeknya. Oleh karenanya, sumberdaya budaya tersebut perlu dijaga keberadaannya dengan cara dilindungi, dilestarikan atau dikonservasi. Pengertian konservasi dalam hal ini diartikan sebagai suatu upaya  untuk melestarikan sumberdaya arkeologi agar dimanfaatkan secara ’bijaksana’ sehingga dapat bertahan lebih lama ( Subroto, 2003). Konservasi merupakan istilah yang menjadi payung dari semua kegiatan pelestarian. Sesuai dengan kesepakatan internasional yang dirumuskan dalam Burra Charter 1981 batasan konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik. Konservasi dapat meliputi segala kegiatan pemeliharaan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Konservasi dapat pula mencakup preservasi, restorasi, rekonstruksi, adaptasi dan revitalisasi (Sidarto dan Budihardjo, 1989).
Pengelolaan sumberdaya budaya pada dasarnya adalah kegiatan yang terpadu antara dua aspek, yaitu pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya budaya. Dalam kegiatan pengelolaan sumberdaya budaya, pembobotan merupakan langkah awal yang perlu dilakukan karena perumusan rancangan manajemen sumberdaya budaya bergantung dari bobot signifikansi yang diberikan kepada sumberdaya budaya tersebut (Pearson, 1995) Dengan demikian perlakuan pengelolaan terhadap sumberdaya budaya bernilai penting akan berbeda dengan sumberdaya budaya yang kurang memiliki nilai.
            Dalam mempromosikan sebuah candi borobudur sejauh ini pemerintah  mempromosikan ke ranah internasional melalui penetapan warisan budaya nasional menjadi warisan dunia karena keindahan dan keagungan Candi Borobudur tidak hanya mendapatkan pengakuan masyarakat Indonesia sendiri, melainkan ia sudah dianggap sebagai warisan kebudayaan dunia. Hal ini terbukti pada saat pemugaran Candi Borobudur selama sepuluh tahun sejak tahun 1971, dukungan berbagai negara sahabat telah diberikan secara mantap.
Dan selain dari pemerintah ternyata ada juga yang mempromosikan candi borobudur  seperti Maria Sharapova diam-diam ternyata petenis cantik Rusia, ini mengagumi keindahan dan kebesaran Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.Pernyataan Sharapova itu  bukan sekadar basa-basi, Mantan petenis nomor satu dunia ini  menjadikan Borobudur sebagai salah satu tujuan liburannya dan melalui akun Facebook-nya, Maria Sharapova mempublish foto yang berlatar belakang Candi Borobudur. "Menjelang matahari terbenam. Sayangnya, Sharapova tidak menyebutkan kapan foto itu diambil. Namun, yang jelas itu sudah membuktikan dia pernah berlibur ke Borobudur. Padahal, sebagai pemain tenis, dia belum pernah secara resmi bertanding di Indonesia.






( Eky Rieuwpassa Kamis, 08/11/2012 22:06:02  Read : 1453 )


Strategi kawasan ini amat berarti bagi kesejahteraan daerah dan warga masyarakat banyak, menumbuhkan kreativitas usaha lokal dan sebagai sarana mempelajari kebesaran peradaban masa lalu untuk kehidupan sekarang. Inilah muara pembangunan destinasi pariwisata yang sebenar-benarnya di komplek Borobudur.

2.1.2 Kajian Teori  Tentang Peran Candi Borobudur  dalam Pendidikan
Pendidikan artinya proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Idris (1982:10).  Merunut pengertian tersebut, pendidikan dimaknai sebagai upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan melalui proses pelatihan dan cara mendidik.
Definisi di atas, menunjukkan bahwa pendidikan merupakan usaha sistematis yang bertujuan agar setiap manusia mencapai satu tahapan tertentu di dalam kehidupannya, yaitu tercapainya kebahagian lahir dan batin.
Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ruang lingkup kebudayaan dan sejarah .  Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia selama menjalin interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun non fisik. Hasil perolehan tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah. Pada akhirnya proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia. Disini kebudayaan dapat disimpulkan sebagai hasil pembelajaran manusia dengan alam. Alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang memicu akal budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupannya.
Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yakni nilai-nilai. Dalam konteks kebudayaan justru pendidikan memainkan peranan sebagai agen pengajaran nilai-nilai budaya. Karena pada dasarnya pendidikan yang berlangsung adalah suatu proses pembentukan kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang dimiliki.
Oleh karena itu kebudayaan diturunkan kepada generasi penerusnya lewat proses belajar tentang tata cara bertingkah laku. Sehingga secara wujudnya, substansi kebudayaan itu telah mendarah daging dalam kepribadian anggota-anggotanya.
Candi Borobudur yang merupakan hasil budaya ini membuktikan serta menyimpan sejarah panjang yang pernah terjadi pada kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno pada masa Dinasti Saylendra, Selain itu Candi Borobudur berfungsi sebagai upacara keagamaan dan ziarah bagi umat Buddha. Serta Candi Borobudur  pada saat ini banyak memiliki fungsi sebagai sumber informasi sejarah dan objek observasi sejarah bagi masyarakat, pelajar, maupun mahasiswa.
Dari uraian diatas kami menyimpulkan bahwa candi borobudur yang merupakan hasil budaya berperan sebagai pendidikan sejarah yaitu memberi informasi sejarah candi borobudur yang dapat kita pelajari sebagai ilmu pendidikan sejarah. Candi Borobudur sebagai salah satu daerah tujuan wisata mempunyai peran diberbagai bidang diantaranya dalam bidang ekonomi dan budya.






2.2  Temuan di Lapangan
2.2.1 Sejarah Borobudur
Candi Borobudur merupakan salah satu dari tujuh  keajaiban dunia yang saat ini masih menjadi pusat perhatian masyarakat dunia baik dari segi kepariwisataan dan pengetahuan.Dan nama Candi Borobudur memiliki beberapa penafsiran nama diantaranya dari Poerbatjaraka menurut beliu“ Boro ” berarti “ Biara ” dengan demikian Borobudur berati “ Biara Budur ”(candi borobudur sepanjang masa,hlm 3).Penafsiran ini memang sangat menarik karena mendekati kebenaran berdasarkan bukti yang ada. Dan menurut De Casparis menemukan kata majemuk dalam sebuah prasasti yang kemungkinan merupakan asal kata Borobudur(candi borobudur sepanjang masa,hlm4).Dalam prasasti SRI KUHULUAN yang berangka 842 masehi dijumpai kata “ Bhumi Sambara Budhara ” yaitu suatu sebutan untuk bangunan suci pemujaan nenek moyang atau disebut kuil.
Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat" Nama Borobudur diambil dari bahasa Sanksekerta dari dua kata “biara” dan “beduhur”.Biara artinya tempat beribadah sedangkan beduhur artinya bukit jadi tempat ibadah diatas bukit”.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa candi Borobudur dibangun pada saat masa kepemimpinan Raja dari wangsa Syailendra yang sangat terkenal, yaitu Samaratungga, sekitar tahun 800-an Masehi. Pada masa itu, pembangunan candi ini diyakini dengan menghiasi/menambahkan bebatuan pada wilayah perbukitan alami, sehingga Borobudur diyakini merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas bukit yang menjulang tinggi. Batu yang disusun menjadi candi tersebut merupakan batu andesit sebanyak 55.000 m3, dengan bangunan berbentuk limas yang berjenjang yang dilengkapi tangga naik di keempat sisinya. Pada masa pemerintahan Raja Samaratungga candi Borobudur digunakan sebagai pusat kegiatan religius dan pemujaan serta ziarah pada masa Raja Samaratungga. Selain itu, candi ini juga dikenal sebagai centre of knowledge dan pusat kebudayaan agama Budha Mahayana, serta pusat kehidupan dan perekonomian masyarakat pada era wangsa Syailendra.
Menurut Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat"Candi Borobudur dibangun pada abad ke 8 oleh  penganut agama Budha Mahayana pada masa pemerintahan wangsa Syailendra dan tujuan dibangun Candi Borobudur ada tiga tujuan , diantaranya yang pertama  sebagai tempat sembahyang Budha, yang kedua sebagai tempat meditasi(bertapa), dan yang ketiga sebagai tempat media siar atau dakwah.Dan perlu di ketahui mengapa Candi Borobudur tujuannya sebagai media siar atau dakwah, karena kita ketahui agama yang pertama di Indonesia ini adalah agama Hindu, oleh karena itu dibangun sebuah Candi besar(Borobudur) gunanya untuk menarik perhatian orang-orang untuk memeluk agama Budha, dan ternyata dengan dibangunnya Candi Borobudur ini berhasil mempengaruhi keyakinan orang-orang yang dulunya memeluk agama Hindu kemudian lari memeluk agama Budha”.
Candi Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur,Magelang,Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta.
 Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat" Candi Borobudur terletak di desa Borobudur,Kecamatan Borobudur , Kabupaten Magelang, provinsi Jawa Tengah.Dan kawasan Candi Borobudur mempunyai luas 85 ha, dimana dengan luas tersebut dibagi menjadi dua manajemen yang pertama di kawasan luar candi di bawah naungan Perusahaan PT.Pariwisata Candi Borobudur dan di dalam kawasan Candi Borobudur di bawah naungan Pemerintah”.
Dan teknis bangunan Candi Borobudur dapat dirinci sebagai berikut:
Ø  Lebar dasar Candi Borobudur                                    :132 m (lebar = panjang karena bujur  sangkar)
Ø  Tinggi bangunan                                             : 35,4 m( setelah restorasi) : 42 m ( sebelum   restorasi)
Ø  Jumlah batu (batu andesit)                              :55.000 m³ (2.000.000 juta blok batu)
Ø  Jumlah Stupa                                                   : 1 Stupa induk , 72 Stupa berterawang
Ø  Stupa induk bergaris tengah                           : 9.9 m
Ø  Tinggi Stupa induk sampai bagian bawah      : 7 m
Ø  Jumlah bidang Relief                                      :1.460 bidang (± 2,5- 3 km)
Ø  Jumlah Patung Budha                                     : 504 buah
Ø  Tinggi Patung Budha                                      :1,5 m

Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat"Candi Borobudur didirikan pada sebuah bukit seluas ± 7,8 ha pada ketinggian 265.40 m diatas permukaan laut.Untuk menyusuakan dengan profil candi yangakan dibangun ,bukit diurug dengan ketebalan bervariasi antara 0,5 m – 8,50 m.Denah candi menyerupai bujur sangkar dengan 36 sudut pada dinding teras 1,2 dan 3 tersusun dari batu andesip dengan sistem dry masonry( tanpa perekat) diperkirakan mencapai 55.000 m³ atau 2.000.000 blok batu.
Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat" Teknik untuk membaca relief-relief dalam Candi Borobudur sesuai dengan arah jarum jam berputar.
Stupa berasal dari sebuah kata dalam bahasa sansekerta stupa yang secara harfiah berarti tumpukan atau gundukan. Stupa merupakan salah satu dari objek religius terpenting, khususnya untuk Buddhisme aliran Vajrayana. Objek ini, dalam berbagai aspek ajaran Buddha, mempunyai tingkatan makna yang berbeda pula. Makna dari terjemahan kata stupa dalam bahasa Tibet adalah ‘wadah persembahan’, dan dalam tradisi Tibet rupang Buddha, kitab suci , dan stupa secara berturut-turut merupakan simbol religius dari tubuh, ucapan, dan pikiran Buddha. Makna yang terdalam dari stupa adalah bahwa objek ini merupakan simbol dari Tubuh Dharma Buddha.
Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat" Jumlah Stupa  ada 73 dalam tingkatan 32 buah, diatasnya 24 dan terakhir 16 buah stupa dan ada 1 stupa besar, 73 ini (7+3= 10) 1 melambangkan Tuhan Yang Maha Esa dan 0 melambangkan kekuasaannya tidak ada yang menandingi.             




Karena keadaan Borobudur kian memburuk maka pada tahun 1900 dibentuklah suatu panitia khusus, diketuai oleh Dr. J.L.A Brandes.Sangat disayangkan beliu meninggal tahun 1905.Tahun 1907 dimulai pembugaran besar-besaran yang pertama kali dan dipimpin oleh Van Erp. Kegiatan ini antara lain memperbaiki sistem drainase, saluran-saluran pada bukit diperbaiki dan pembuatan cangal untuk mengarahkan air hujan.
Dan pemugaran kedua dilakukan pada tahun 1963 oleh pemerintah RI dengan menyediakan dana yang cukup besar.Pada tahun 1963 Pemerintah RI membentuk panitia Nasional untuk melaksanakan pemugaran Candi Borobudur dan juga dibantu oleh UNESCO.
Menurut Pak Andi yang merupakan guide KKL kami berpendapat" Untuk menyelamatkan Candi Borobudur dibuatlah saluran air (drenase) untuk menampung air hujan supaya tanahnya tidak amblas atau tenggelam.Dan melakukan pembersihan abu vulkanik yang menempel di dinding candi dan membereskan puing-puing candi.


2.2.2  Peran Candi Borobudur sebagai Objek Wisata
Peran pemerintah dalam merawat candi borobudur tertuang dalam  Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.40/OT.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur mempunyai tugas pokok melaksanakan kajian di bidang konservasi, teknik sipil, arsitektur, geologi, biologi, kimia, arkeologi, dan melaksanakan pelatihan tenaga teknis konservasi serta perawatan Borobudur dan peninggalan purbakala lainnya.
Dan menurut Pak Anto (Securiti) berpendapat" Bahwa Perawatan Candi Borobudur itu dananya dari pemerintah di bawah dinas Pariwisata dan perlu diketahui tanah di kawasan luar candi yang sekarang fungsinya sebagai taman wisata, dulunya adalah tanah milik penduduk yang kemudian dibeli oleh pemerintah di bawah dinas pariwisata, yang akhirnya dijadikan taman wisata Candi Borobudur”.
Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) meminta pengelola Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko sebagai salah satu daerah tujuan wisata mempunyai peran diberbagai bidang diantaranya :

·         Ekonomi
Candi Borobudur saat ini menjadi salah satu objek wisata setelah disahkan oleh Bapak. Soeharto. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan daerah dan pendapatan masyarakat setempat dikarenakan dengan di Bukanya Candi Borobudur sebagai tempat wisata dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar yang seperti kami lihat banyak orang yang berjualan berupa alat kerajinan maupun kuliner.
·         Budaya
Sebagai objek wisata,candi borobudur mempunyai peran dalam budaya yaitu kita dapat mengerti dan mengetahui tentang sejarah candi borobudur, memberi informasi yang dapat diamati dari aspek filosifi dari bentuk bangunan candi, latar belakang keagamaan, pendidikan etika dan norma juga kita daapat mengetahui nilai budaya dalam aspek arkeologi,arkeologi ini adalah nilai yang berkaitan dengan kegunaan  bentuk arsitektur,. Bentuk arsitektur Candi Borobudur adalah perpaduan antara arsitektur Indonesia asli yang ditandai dengan tiga tingkat berundak menyerupai punden yakni ciri khas bangunan yang diperuntukkan bagi pemujaan roh nenek moyang (Soekmono, 1982) dengan arsitektur India yang dicirikan oleh bentuk stupa sebagai puncaknya.
Dan menurut Pak Andi guide KKL kami berpendapat"  Pengelolaan Candi Borobudur  dalam bidang ekonomi dan budaya disini dalam bidang ekonomi candi borobudur mempunyai fungsi untuk menyumbangkan devisa negara, dan dalam bidang kebudayaan pengunjung dapat mengetahui sejarah borobudur dan isi dari candi borobudur.

2.2.3 Peran Candi Borobudur sebagai Pendidikan
Dalam strategi pengelolaan untuk wisata disini pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah kepribadian-kepribadian. Para pakar antropologi, menunjuk kepada peranan individu bukan hanya sebagai bidak-bidak di dalam papan catur kebudayaan. Individu adalah creator dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Di dalam hal ini studi kebudayaan mengemukakan pengertian “sebab-akibat sirkuler” yang berarti bahwa antara kepribadian dan kebudayaan terdapat suatu interaksi yang saling menguntungkan. Di dalam perkembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan akan dapat berkembang melalui kepribadian–kepribadian tersebut. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang kreatif.
Menurut Pak Andi yang selaku guide KKL kami berpendapat"Strategi pengelolaan dalam Objek Pendidikan yaitu seperti yang kita ketahui Candi ini adalah Peninggalan dari Kerajaan Mataram pada Dinasti Syailendra,dari sini kita dapat mengetahui sejarah Candi Borobudur selain itu disini ada guide yang tugas menjelaskan tentang borobudur baik dalam sejarah, isi(relief,stupa,tingkatan).Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur memegang Peran Pendidikan yaitu memberikan informasi tentang Candi Borobudur sebagai ilmu pendidikan sejarah”.
Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) meminta pengelola Taman Wisata Candi Borobudur  mempromosikan ke ranah internasional melalui penetapan warisan budaya nasional menjadi warisan dunia karena keindahan dan keagungan Candi Borobudur tidak hanya mendapatkan pengakuan masyarakat Indonesia sendiri, melainkan ia sudah dianggap sebagai warisan kebudayaan dunia. Hal ini terbukti pada saat pemugaran Candi Borobudur selama sepuluh tahun sejak tahun 1971, dukungan berbagai negara sahabat telah diberikan secara mantap.
Menurut Pak Andi yang selaku guide KKL kami berpendapat" Dalam mempromosikan Candi Borobudur, dilakukan dengan cara mengenalkan wisata warisan dunia ini melalui teknologi informasi seperti internet, buku-buku tentang sejarah Candi Borobudur dan laen sebagainya.








.
2.3   Hubungan Kajian Teori dengan Temuan di lapangan
Menurut kajian teori
Candi borobudur didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Nama candi ini berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”. Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.Candi borobudur mempunyai 3 tingktan yaitu kamadatu,rupadatu dan arupadatu.Dalam setiap dinding ada sebuah Relief-relief yang  dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Jumlah stupa pada candi borobudur yaitu 73 buah dengan rincian 1 buah stupa induk, 32 stupa pada teras melingkar I, 24 stupa pada teras melingkar II, dan 16 stupa pada teras melingkar III. Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) meminta pengelola Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko sebagai salah satu daerah tujuan wisata mempunyai peran diberbagai bidang diantaranya bidang ekonomi dan budaya. Peran pemerintah dalam merawat candi borobudur tertuang dalam  Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : PM.40/OT.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur. Dari uraian diatas kami menyimpulkan bahwa candi borobudur yang merupakan hasil budaya berperan sebagai pendidikan sejarah yaitu memberi informasi sejarah candi borobudur yang dapat kita pelajari sebagai ilmu pendidikan sejarah.
Temuan di lapangan
Nama Borobudur diambil dari bahasa Sanksekerta dari dua kata “biara” dan “beduhur”.Biara artinya tempat beribadah sedangkan beduhur artinya bukit jadi tempat ibadah diatas bukit”. Menurut ajaran Budha, alam semesta dibagi menjadi tiga Unsur atau dhatu dalam bahasa Sanksekerta, yaitu Kamadhatu,Rupadhatu,Arupadhatu. Bahwa Perawatan Candi Borobudur itu dananya dari pemerintah di bawah dinas Pariwisata dan perlu diketahui tanah di kawasan luar candi yang sekarang fungsinya sebagai taman wisata. Peran sebagai Objek Wisata adalah sebagai tempat wisata yang dapat dikunjungi oleh siapapun baik turis domestik maupun mancanegara untuk mengenal dan mempelajari masalah Candi Borobudur. Candi Borobudur memegang Peran Pendidikan yaitu memberikan informasi tentang Candi Borobudur sebagai ilmu pendidikan sejarah”.
Dari uiraian dan penjelasan secara singkat tentang  kajian teori dan temuan dilapangan ditasa mempunyai kesamaan atau hubungan, dengan ini kami dapat menyimpulkan bahwa kajian teori dan temuan dilapangan materi yang kami dapatkan tidak jauh beda atau hampir sama.


    












BAB III
Kesimpulan
3.1              Kesimpulan
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur ,Magelang,Jawa Tengah dan didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam, Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut yaitu Karmawibhangga, Lalitawistara, Jataka dan Awadana. Jumlah stupa pada candi borobudur yaitu 73 buah dengan rincian 1 buah stupa induk, 32 stupa pada teras melingkar I, 24 stupa pada teras melingkar II, dan 16 stupa pada teras melingkar III.
Dalam mempromosikan candi borobudur sejauh ini pemerintah  mempromosikan ke ranah internasional melalui penetapan warisan budaya nasional menjadi warisan dunia. Candi Borobudur sebagai salah satu daerah tujuan wisata mempunyai peran diberbagai bidang diantaranya dalam bidang ekonomi dan budya. Bahwa candi borobudur berperan sebagai pendidikan sejarah yaitu memberi informasi sejarah candi borobudur yang dapat kita pelajari sebagai ilmu pendidikan sejarah.
Dalam Objek Wisata kita dapat mengetahui  dan dapat mengerti tentang sejarah candi borobudur, memberi informasi yang dapat diamati dari aspek filosifi dari bentuk bangunan candi, latar belakang keagamaan, pendidikan etika dan norma juga kita daapat mengetahui nilai budaya dalam aspek arkeologi,arkeologi ini adalah nilai yang berkaitan dengan kegunaan  bentuk arsitektur. Bentuk arsitektur Candi Borobudur adalah perpaduan antara arsitektur Indonesia asli yang ditandai dengan tiga tingkat berundak menyerupai punden yakni ciri khas bangunan yang diperuntukkan bagi pemujaan roh nenek moyang (Soekmono, 1982).Dan peran Pendidikannya adalah memberikan informasi tentang Candi Borobudur sebagai Ilmu Pendidikan Sejarah.
3.2  Saran
Dari hasil Observasi KKL yang telah lakukan kami mempunyai saran bahwa kita sebagai generasi muda harus menghargai sejarah kita sendiri yaitu dengan merawat,mempelajari,dan melestarikan dari apa saja yang dihasilkan   budaya terdahulu salah satunya peninggalan pada kerajaan Mataram kuno dalam masa pemerintahan dinasti syailendra yaitu Candi Borobudur.








3.3  Penutup
Dengan selesainya penyusunan makalah ini, maka penyusun panjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT,atas segala petunjuk bimbingan dan ridho-Nya, kesulitan dan hambatan dapat teratasi sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan.
            Pemilihan laporan ini merupakan bentuk pemikiran kami dari kegiatan Kuliah Kerja Lapangan dengan mengharapkan pencapaian tujuan belajar yang maksimal guna memperoleh basil yang maksimal pula, Dan semoga Makalah ini bermanfaat bagi seluruh Mahasiswa Universitas PGRI Banyuwangi beserta Mahasiwa sejarah.
Penyusunan Laporan ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu diharapkan peranserta pembaca dalam memberikan kritik dan saran bagi kelompok kami yang membangun untuk kesempurnaan penulisan Makalah ini.
Semoga apa yang ada dalam penulisan ini bermafaat bagi Mahasiwa khususnya Mahasiswa sejarah.









DAFTAR PUSTAKA

Madhori.   Candi Borobudur Sepanjang Masa
Soekmono.R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, (1975).
Kanisius Yogya.
(http://www.purbakala. jawatengah.go.id/detail_berita.php?act=view&idku=19)
http://wisata.mitrasites.com/taman-wisata-candi-borobudur.html

1 komentar:

  1. Thanks ya sob udah share , blog ini sangat bermanfaat sekali .............




    bisnistiket.co.id

    BalasHapus